Apa itu limbah pertambangan dan apakah berbahaya?

Bagaimana langkah yang tepat untuk menanggulangi limbah pertambangan? Industri tambang di Indonesia memang menolong perekonomian negara secara signifikan. Dalam mineral potential index, Indonesia bahkan berada di posisi yang strategis: menjadi penyumbang timah terbesar, berada di alur ke dua untuk tembaga, dan alur ketiga untuk nikel.

Pertambangan terhitung berkontribusi besar dalam ekspor hingga pembentukan PDB (Pendapatan Domestik Bruto). Industri tambang menyumbang sekitar 7,2% PDB Indonesia terhadap tahun 2020.

Di balik segala keuntungan tersebut, nyatanya sektor pertambangan pun memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah kasus limbah.

 Di beberapa wilayah dunia, layaknya benua Eropa, limbah pertambangan bahkan merupakan penyebab utama pencemaran air. Hal ini pasti mampu membahayakan keselamatan makhluk hidup, terutama yang berada di sekitar tempat tambang.

Indonesia bahkan mampu menghadapi risiko yang lebih besar kalau pengolahan limbah pertambangan tidak dikerjakan secara serius. Pasalnya, tersedia banyak sekali tempat di Indonesia yang menjadi tempat tambang. Beragam jenis mineral pun tersedia di Indonesia, jadi dari timah, tembaga, nikel, bahkan emas sekalipun ada. Tambang yang aktif beroperasi pun masih banyak jumlahnya.

Ulasan kali ini akan mengkaji perihal dampak limbah pertambangan dan juga langkah menanganinya bersama dengan tepat sehingga tidak membahayakan lingkungan. Ini dia rangkuman dari Agen jual dump truck.

Apa itu limbah pertambangan?

Sebelum lebih jauh mengkaji perihal langkah penanganan, memang apa yang dimaksud bersama dengan limbah pertambangan? Ini merupakan jenis limbah yang berasal dari penggalian tanah, limpasan hujan dan pengolahan pabrik pertambangan. Limbah pertambangan mampu berwujud susunan tanah yang menutupi mineral (yang dipindahkan untuk mampu mendapat akses ke sumber kekuatan mineral), hingga batuan sisa dan terhitung tailing (yang muncul sehabis sistem ekstraksi mineral berharga).

Limbah ini memiliki kandungan zat beresiko dalam kuantitas besar, layaknya logam berat. Ekstraksi dan juga pemrosesan logam dan senyawa logam mampu mengakibatkan drainase asam atau basa.

Misalnya, kegiatan pertambangan emas mampu mengundang limbah pertambangan yang memiliki kandungan arsenik, timbal, dan merkuri bersama dengan konsentrasi tinggi. Padahal, arsenik dalam konsentrasi tinggi mampu mengundang keracunan yang berujung kematian.

Selain itu, pengelolaan tailing pun amat berisiko dan sering kali menghasilkan sisa bahan kimia beresiko dan peningkatan takaran logam. Tailing sering dikelola bersama dengan metode konvensional mengfungsikan sedimen pond. Metode ini terlalu mungkin terjadinya peluapan overflow berlebih seiring makin lama banyaknya lumpur yang berkunjung sehingga mengundang kontaminasi terhadap lingkungan dan dampak panjang terhadap kesegaran manusia dan lingkungan.

Mengelola limbah tambang bersama dengan benar akan memastikan keberlangsungan memproduksi pengolahan tambang dan menghindar terjadinya pencemaran terhadap lingkungan. Dengan begitu, polusi air dan tanah yang timbul dari drainase asam atau basa dan pencucian logam berat pun mampu diminimalkan atau bahkan dicegah.